Blogger templates
Senin, 04 Agustus 2014
Rabu, 21 Mei 2014
APAKAH SINYAL PONSEL MEMBAHAYAKAN KESEHATAN ?
Alhamdulillah, setelah hampir setahun tidak menulis di blog, saya akhirnya berkesempatan untuk mengisinya kembali. kali ini tulisan yang akan dibahas tentang bahaya sinyal ponsel bagi kesehatan
Sinyal
dari ponsel merupakan sebentuk gelombang mikro yang memiliki panjang
gelombang sekitar 1 mm. Riset tentang gelombang mikro dimulai pada
era perang dunia II ketika kebutuhan akan alat yang dapat mendeteksi
pesawat tempur musuh pada jarak yang jauh di malam hari, merupakan
suatu hal yang sangat penting untuk pertahanan tentara sekutu.
Kemampuan
gelombang mikro untuk memasak makanan pertama kali disadari melalui
jalan yang mengerikan pada tahun 1945. Pada waktu itu, para tentara
yang sedang mengoperasikan peralatan radar, bereksperimen dengan
peralatan berdaya tinggi untuk memungkinkan komunikasi pada jarak
yang lebih jauh. Mereka memperhatikan bagaimana eksperimen tersebut
terjadi bersamaan dengan jatuhnya burung mati ke tanah. Observasi
mendetail pada bangkai burung tersebut, menunjukkan bahwa burung
tersebut terpanggang, atau setidaknya setengah matang. Energi
gelombang mikro memasak daging meskipun secara tidak disengaja.
Kemungkinan
gelombang mikro memiliki potensi bahaya bagi kesehatan telah diteliti
secara luas, dan banyak perhatian diberikan untuk mengoptimalkan
peralatan yang mengandung gelombang mikro yang tidak berbahaya bagi
manusia, salah satunya adalah oven microwave. Jadi, sekarang
kita tahu bahwa oven microwave tidak berbahaya bagi manusia.
Telepon
teknologi terbaru yang kita kenal dengan telepon seluler (HP),
mentransmisikan pesan lisan dan tulisannya melalui gelombang mikro,
sehingga menimbulkan rumor yang luas bahwa telepon seluler dapat
menyebabkan telinga penggunanya “terpanggang” seperti kue yang
masuk ke dalam oven microwave. Terlalu sedikit riset yang
telah dilakukan untuk mengklarifikasi hal tersebut, sehingga
situasinya masih belum ada penyelesaian.
Memang,
konsumsi energi dari telepon seluler sangatlah kecil dibandingkan
dengan pada oven microwave (1
Watt untuk telepon seluler berbanding 200 – 1000 Watt untuk oven
microwave). Namun banyak tanda-tanda yang membuat gelisah, yaitu
bahwa pemakaian telepon seluler bersifat addiktif (menimbulkan
kecanduan). Beberapa peneliti menduga bahwa penyebab terjadinya
kecanduan adalah karena perubahan kecil pada bagian otak sebelah
dalam akibat terpanggangnya kelenjar kecil yang tertanam disana.
Sebagian lagi memilih penjelasan yang lebih bersifat psikologis dan
sosiologis.
Sementara
sebagian peneliti menyatakan bahwa telepon seluler cukup aman,
sebagian yang lain menyatakan bahwa hal tersebut cukup berbahaya.
Sebagai kesimpulan, tidak seperti halnya dengan oven microwave
yang telah disepakati
keamanannya (jika digunakan dengan tepat), banyak laporan medis
sekarang menyarankan agar kita mencoba untuk tidak berkomunikasi
melalui telepon seluler terlalu sering.
Sumber
: Physical Chemistry, Understanding Our Chemical World
Kamis, 24 Oktober 2013
Hideki Shirakawa dan Polimer konduktif
Hideki
Shirakawa, salah seorang penemu di bidang polimer konduktif (atau
yang lebih dikenal sebagai ”logam sintesis“), adalah seorang
kimiawan yang pada tahun 1977, bertanggung jawab terhadap
perkembangan teknologi dalam hal doping poliasetilen (CH)x
secara kimiawi dan secara elektrokimia. Hideki Shirakawa mendapatkan
hadiah Nobel kimia pada tahun 2000 bersama Alan J. Heeger dan Alan G.
McDiarmid. Akademi sains kerajaan Swedia menghadiahkan nobel pada
ketiganya untuk penemuan dan pengembangan polimer konduktif.
Hideki
Shirakawa dilahirkan di Tokyo pada tanggal 20 Agustus 1936. Setelah
lulus dari Tokyo Institute of Technology dalam bidang teknik
kimia pada tahun 1961, dia kemudian melanjutkan kuliah pasca sarjana
di universitas yang sama dan menerima gelar doktor dalam bidang
teknik pada tahun 1966. Selanjutnya dia bekerja sebagai asisten pada
Laboratorium Sumber daya Kimia pada universitas yang sama sampai
tahun 1976, dimana dia kemudian menjadi seorang peneliti di Unversity
of Pennsylvania Amerika Serikat.
Tiga
tahun kemudian, dia kembali ke Jepang dan bergabung menjadi staf di
University of Tsukuba sebagai asosiate professor (suatu
tingkat di atas asisten profesor, namun di bawah profesor penuh).
Pada tahun 1982 dia kemudian menjadi profesor penuh, dan pada bulan
April 2000 dia ditunjuk sebagai profesor emeritus. Tahun 1983 dia
menerima penghargaan dari Perkumpulan polimer Jepang untuk risetnya
dalam poliasetilena.
Hideki
Shirakawa, seorang profesor emeritus pada Universitas Tsukuba, telah
ditetapkan sebagai penerima hadiah nobel tahun 2000. Hadiah tersebut
diberikan kepadanya bersama dengan dua ilmuwan AS, yaitu Alan Heeger
(64 tahun) dari University of California di Santa Barbara, dan
Alan McDiarmid (73 tahun) dari University of Pennsylvania untuk
kerja keras mereka menemukan dan mengembangkan polimer konduktif,
atau plastik yang dapat menghantarkan arus listrik. Shirakawa adalah
orang Jepang kesembilan yang menerima hadiah nobel (secara umum), dan
yang kedua setelah Ken'ichi Fukui yang memenangkan nobel kimia pada
tahun 1981.
Bagaimana
plastik bisa menghantarkan listrik ?
Plastik
adalah salah satu bentuk polimer, suatu rangkaian molekul yang
berbentuk rantai panjang, dengan unit yang berulang-ulang seperti
manik-manik pada kalung. Supaya menjadi konduktor listrik, suatu
polimer harus meniru logam, yaitu elektronnya harus dapat bergerak
bebas dan tidak terikat pada atom. Maka, pertama-tama polimer harus
memiliki ikatan rangkap dan tunggal yang bergantian (mengalami
konjugasi). Akan tetapi, hal ini tidak cukup. Untuk menjadi
penghantar listrik, plastik harus “dikacaukan” baik dengan cara
menghilangkan elektron (oksidasi), maupun memasukkan elektron ke
dalamnya (reduksi). Proses ini dinamakan dengan doping.
Apa
yang ditemukan oleh Heeger, McDiarmid, dan Shirakawa adalah bahwa
lapisan tipis film poliasetilen dapat dioksidasi dengan uap iodin,
sehingga meningkatkan daya hantar listriknya menjadi milyaran kali.
Penemuan sensasional ini adalah hasil dari kerja keras yang
menakjubkan, awal dari lahirnya teknologi modern yang memiliki
aplikasi sangat luas.
Akan
tetapi, sebenarnya penemuan ini didapat karena ketidaksengajaan.
Penemuan tersebut diperoleh dari proses yang tidak diinginkan. Suatu
penemuan yang bagi sebagian orang, mungkin akan dibuang dan dianggap
suatu kegagalan.
Bagaimana
konduktivitas polimer terkuak ?
Yang
menjadi inti dari cerita ini adalah senyawa hidrokarbon poliasetilen,
suatu molekul berbentuk datar dengan sudut 120 derajat diantara
ikatannya sehingga memiliki dua bentuk yang berbeda, yaitu isomer
cis-poliasetilen dan trans-poliasetilen.
Gb. 1 Proses pembentukan poliasetilen
Cerita
tentang polimer konduktif dimulai pada tahun 1960-an. Pada waktu itu,
Shirakawa sedang melakukan riset PhD-nya di bawah bimbingan Sakuji
Ikeda di Tokyo Institute of Technology, untuk memebuat polimer
dari asetilen menggunakan katalis Ziegler-Natta, suatu katalis yang
biasa digunakan untuk membuat polimer. Shirakawa ingin menjelaskan
proses polimerisasi molekul yang berikatan rangkap tiga tersebut.
Suatu
hari, karena terjadi miskomunikasi, seorang pelajar magang yang
berasal dari korea menambahkan katalis dalam jumlah yang melebihi
aturan, sekitar 1000 kali dari yang seharusnya. Akibatnya, suatu
material yang mengkilap dan mirip film, terbentuk di permukaan
larutan katalis. Shirakawa terkesima dengan penemuan ini. Hasil ini
jauh lebih menarik daripada serbuk coklat poliasetilen yang
seharusnya terbentuk. Efek dari konsentrasi katalis yang tinggi
rupanya menghasilkan lebih banyak rantai polimer.
Shirakawa
akhirnya merancang prosedur untuk mensintesis sejumlah besar film
poliasetilen dan untuk mengontrol komposisi dari dua bentuk isomer
dari poliasetilen (isomer cis dan isomer trans). Film keperakan yang
dihasilkan adalah trans-poliasetilen, dan reaksi yang serupa pada
suhu yang lain menghasilkan film yang berwarna merah muda seperti
tembaga. Film yang kedua ini hampir keseluruhannya terdiri dari
cis-poliasetilen.
Gb. 2 cis-poliasetilen berwarna merah muda seperti tembaga, sedangkan trans-poliasetilen berwarna keperakan
Cara
ini (membuat variasi dalam hal suhu dan konsentrasi katalis), menjadi
sangat menentukan pada pengembangan selanjutnya. Penampakan metalik
dari hasil reaksi menjadikan kimiawan berfikir kemungkinan sifat
logam yang dimilikinya. Dalam bentuk yang aslinya, senyawa
poliasetilen bukanlah konduktor yang baik.
Di
bagian dunia yang lain, seorang kimiawan, McDiarmid dan seorang
Fisikawan, Heeger, sedang bereksperimen dengan film yang mirip logam
dari polimer anorganik sulfur nitrida (SN)x. McDiarmid
menunjukkan hal ini pada suatu seminar di Tokyo. Pada saat istirahat,
McDiarmid dan Shirakawa bertemu secara tidak sengaja, dan inilah awal
mula dari penemuan besar yang akan terjadi selanjutnya.
Ketika
McDiarmid mendengar tentang penemuan Shirakawa dalam polimer organik
yang juga berkilau seperti perak, dia mengundang Shirakawa ke
University of Pennsylvania di Philadelphia. Mereka mencoba
memodifikasi poliasetilen melalui oksidasi menggunakan uap iodin.
Shirakawa mengetahui bahwa sifat optik berubah karena proses oksidasi
dan McDiarmid menyarankan bahwa mereka meminta Heeger untuk menelaah
film yang mereka hasilkan. Salah satu mahasiswa Heeger kemudian
mengukur konduktivitas dari film trans-poliasetilen yang sudah
didoping menggunakan iodin, dan hasilnya – eureka !
Konduktivitasnya meningkat sampai puluhan juta kali !
Pada
musim panas tahun 1977, Heeger, McDiarmid, Shirakawa, dan
kawan-kawan, mempublikasikan penemuan mereka dalam artikel “Synthesis
of electrically conducting organic polymers : Halogen derivatives of
polyacetylene (CH)n” dalam Jurnal of
Chemical Society. Penemuan ini merupakan kemajuan yang sangat
besar, karena kemudian bidang ini (polimer konduktif) melesat maju
dengan cepatnya, mendorong kemajuan pada banyak bidang lain baik yang
baru maupun yang sudah ada.
Doping
– untuk penampilan molekul yang lebih baik
Apa
yang sebenarnya terjadi pada film poliasetilen ? Ketika kita
membandingkan beberapa senyawa yang sudah umum dikaitkan dengan
konduktivitasnya, kita melihat bahwa konduktivitas dari polimer
sangat bervariasi. Poliasetilen yang telah didoping dapat
disandingkan dengan konduktor seperti tembaga ataupun perak dalam hal
konduktivitasnya, sementara dalam bentuk aslinya, polimer ini
bersifat semikonduktor. Kawat logam dapat menghantarkan arus listrik
karena elektron pada logam tersebut dapat bergerak dengan bebas.
Lalu, bagaimana konduktivitas dari polimer yang didoping dapat
dijelaskan sifatnya?
Ketika
menggambarkan molekul polimer, kita membedakan antara ikatan sigma
(σ)
dan ikatan pi (Ï€).
Ikatan-ikatan ini bersifat kaku dan tidak dapat bergerak bebas.
Mereka membentuk ikatan kovalen diantara atom-atom karbon.
Elektron-elektron yang terletak pada ikatan rangkap terkonjugasi
(ikatan rangkap yang berselang-seling dengan ikatan tunggal) juga
relatif terlokalisasi (beredar di tempat tertentu), meskipun sedikit
lebih bebas daripada elektron yang membentuk ikatan sigma dan pi.
Gb. 3 Perbandingan
ikatan tunggal (kiri), rangkap (tengah), dan ikatan rangkap terkonjugasi (kanan)
Sebelum
arus dapat mengalir melalui molekul polimer, satu atau lebih elektron
harus dihilangkan dari dalamnya, atau sebaliknya, ditambahkan ke
dalamnya. Jika medan listrik kemudian diberikan, maka
elektron-elektron penyusun ikatan dapat bergerak secara cepat
sepanjang rantai molekul. Konduktivitas dari material plastik yang
mengandung banyak rantai polimer, akan terbatas karena
elektron-elektron harus “melompat” dari satu molekul ke molekul
berikutnya. Jadi, rantai tersebut harus membentuk rantai yang
teratur.
Sebagaimana
diuraikan sebelumnya, ada dua jenis doping, oksidasi dan reduksi.
Dalam kasus poliasetilen, reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut
:
Oksidasi
menggunakan halogen (p-doping): [CH]n + x I2 –>
[CH]nx+ + x I3-
Reduksi
menggunakan logam alkali (n-doping): [CH]n
+ x Na –> [CH]nx-
+ x Na+
Polimer
yang telah didoping disebut dengan garam. Akan tetapi, bukan ion
iodida atau ion natrium yang bergerak untuk menghasilkan arus
listrik, namun elektron yang berasal dari ikatan rangkap
terkonjugasi-lah yang melakukannya. Lebih lanjut lagi, jika medan
listrik yang cukup kuat diberikan, maka ion iodida dan ion natrium
dapat bergerak baik menuju ataupun menjauhi polimer. Ini artinya
bahwa arah dari reaksi doping dapat dikontrol dan polimer konduktif
dapat dengan mudah dihidupkan atau dimatikan.
Polaron
– rantai karbon terdoping
Dalam
reaksi pertama (yaitu oksidasi), molekul iodin menarik elektron dari
rantai poliasetilen dan berubah menjadi ion I3-.
Molekul poliasetilen (yang sekarang menjadi bermuatan positif),
kemudian diistilahkan sebagai kation radikal atau polaron.
Elektron tak berpasangan yang berasal dari ikatan rangkap (yang salah
satu elektronnya diambil), dapat bergerak dengan bebas.
Konsekwensinya, ikatan rangkap pun dapat “bergerak” (secara
estafet) sepanjang molekul.
Muatan
positif di lain fihak, dikuatkan oleh gaya tarik elektrostatik
terhadap ion iodida, yang tidak begitu mudah bergerak. Jika rantai
poliasetilen teroksidasi sangat kuat, polaron mengalami
kondensasi menjadi soliton. Soliton inilah yang
bertanggung jawab, dengan cara yang sangat kompleks, terhadap
transport muatan sepanjang rantai polimer, sebagaimana halnya dari
rantai ke rantai dalam skala makroskopis.
Penemuan
hideki shirakawa dan kawan-kawan menjadi awal dari era baru dalam hal
teknologi komputer. Penemuannya telah banyak tersedia di sekeliling
kita, di antaranya adalah baterai telepon genggam dan touch-screen
(layar sentuh).
Gb. 4. Layar Touch Screen banyak digunakan dalam peralatan tablet (atas). Cara kerja layar touch screen (bawah)
Sumber : http://nitum.wordpress.com/2012/09/29/biography-of-hideki-shirakawa/
Senin, 07 Oktober 2013
Dari manakah gas metan dihasilkan ?
Gas metana (CH4) adalah senyawa
hidrokarbon paling sederhana yang berwujud gas pada suhu kamar. Gas
ini telah diidentifikasi oleh para ilmuwan sebagai salah satu gas
rumah kaca yang dapat menimbulkan pemanasan global.
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa kadar metana
meningkat sejak tahun 1850-an, sebagai dampak dari Revolusi industri
yang berlangsung pada masa itu.
Walaupun begitu, pada hari ini pun sangatlah sulit
untuk menentukan sebagian besar peningkatan emisi gas metan tersebut
berasal dari lahan basah (rawa-rawa dan persawahan), ataukah
lapangan pengeboran minyak.
Karena metan adalah gas rumah kaca yang sangat kuat,
maka jika para ilmuwan mengetahui sumber peningkatan gas tersebut,
maka para pembuat kebijakan dapat membuat target pengurangan emisi
gas metan.
“Metana sangatlah penting. Gas ini adalah gas yang
memungkinkan kita untuk melakukan tindakan”, ujar Philip Bousquet,
seorang peneliti di the Climate and Environmental Sciences
Laboratory di Perancis.
Tulisan Bousquet adalah suatu upaya untuk
mempersiapkan secara komperhensif apa yang diketahui tentang sumber
gas metana dan reservoir yang dapat menyerap gas metana, dan untuk
menggarisbawahi cara untuk meningkatkan pengetahuan kita dari mana
gas metana berasal.
Secara kasar, gas metana dapat dibagi ke dalam 3
kategori berdasarkan asalnya. Para ilmuwan dapat membedakan ketiga
sumber yang berbeda tersebut berdasarkan sifat kimianya.
Rawa-rawa masih menjadi misteri
Sumber
pertama adalah mikroba yang mengeluarkan gas metana. Metana jenis
ini muncul dari lingkungan yang minim oksigen seperti rawa-rawa,
sawah, dan tempat pembuangan sampah (TPA). Suatu hal yang cukup unik
juga bahwa metana dihasilkan oleh rayap dan perut sapi. Bahkan,
metana yang dihasilkan oleh sapi sama besarnya dengan metana yang
dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
Sumber kedua adalah bahan bakar fosil. Metana jenis
ini dihasilkan ketika batu bara, minyak, dan gas alam dikeruk dari
perut bumi, dan juga dihasilkan selama pengangkutan dan pembakaran.
Sumber ketiga adalah dari pembakaran biomassa (kayu
bakar, jerami, dll). Sumber ini sebagian besarnya merupakan akibat
perbuatan manusia.
Pada tahun 1850-an, kadar metana secara global
adalah sekitar 830 ppb di atmosfer. Pada tahun 2010, jumlah ini naik
menjadi 1770 ppb. Meskipun demikian, peningkatan ini tidak selalu
tetap.
Konsentrasi metana secara signifikan naik pada tahun
1980-an, namun dari tahun 1999 sampai 2006, hampir tidak terjadi
perubahan. Sejak tahun 2006, kadarnya naik lagi. Namun, penyebab
sebenarnya masih membutuhkan penelitian.
Penulis laporan berspekulasi bahwa, sejak tahun
2006, emisi dari lahan basah mengalami peningkatan karena tingginya
suhu di daerah lintang tinggi dan banyaknya hujan di lahan basah
daerah tropis selama La Nina (lawan dari El Nino). Para ilmuwan juga
menduga bahwa emisi bahan bakar dari meningkatnya eksplorasi batu
bara di Asia dan ledakan minyak dan gas di Amerika Serikat.
“Beberapa kombinasi dari lahan basah dan bahan
bakar fosil adalah penyebab peningkatan ini di beberapa tahun
terakhir, namun jumlah pastinya kita belum bisa mengatakannya
sekarang” ujar Isobel Simpson, seorang ahli kimia atmosfer di
Unversity of California dan juga merangkap sebagai salah seorang
penulis laporan tersebut.
Para penulis menekankan beberapa bagian untuk
perbaikan. Bousquet menggarisbawahi lahan basah tropis, merupakan
sumber metana alam yang signifikan, sebagaimana riset dibutuhkan.
“Lahan basah merupakan sumber yang terbesar, dan
juga merupakan salah satu yang tidak jelas. Kita benar-benar butuh
melakukan kerja keras untuk mengurangi penyebaran lahan basah”
ujarnya juga
Para penulis juga menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengukur gas metan di daerah tropis, yang banyak mengandung lahan
basah dan mengalami kekurangan stasiun pengontrol. Kebutuhan lain
melibatkan perbaikan persediaan sumber metana, seperti bagaimana gas
ini diemisikan dari siklus produksi gas alam, suatu bidang yang
menjadi riset secara aktif pada waktu ini, Simpson menekankan.
Sumber : http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=global-methane-releases-could-be-wetlands-or-wellheads
Rabu, 02 Oktober 2013
Gas Karbondioksida dapat menjadi sumber energi baru (2)
Masih berkaitan dengan karbondioksida. Selain
digunakan untuk menghasilkan energi listrik, ternyata para ahli juga
menemukan bahwa karbondioksida dapat dijadikan sebagai sumber
potensial untuk menghasilkan bahan bakar minyak.
Karbondioksida adalah hasil samping dari pembakaran
glukosa dalam tubuh semua makhluk hidup. Tanaman akan mengubah gas
karbondioksida menjadi glukosa kembali yang kemudian dapat dikonsumsi
lagi oleh makhluk hidup. Siklus ini terus berulang yang menjadikan
jumlah karbondioksida di atmosfer senantiasa konstan.
Akan tetapi, pembakaran bahan bakar minyak oleh
kendaraan, kompor, dan pembangkit tenaga listrik, menjadikan jumlah
karbondioksida yang ada di atmosfer mengalami kenaikan yang drastis.
Hal ini jika dibiarkan, akan menyebabkan terjadinya pemanasan global,
karena gas karbondioksida merupakan salah satu gas rumah kaca.
Para ahli sudah memperingatkan akan bahaya ini,
sehingga memaksa perusahaan-perusahaan yang berpotensi melepaskan gas
karbondioksida dalam jumlah besar ke atmosfer (seperti reaktor
pembangkit tenaga listrik), untuk menangkap gas karbondioksida yang
dilepaskan supaya tidak mencemari udara.
Tahap pertama ini tidaklah sulit untuk dilakukan.
Akan tetapi yang sulit adalah proses penanganan selanjutnya.
Menginjeksikan gas karbondioksida ke dalam bumi sangatlah mahal,
sedangkan mengubahnya menjadi bahan bakar, membutuhkan energi yang
sangat besar dan terkadang menggunakan bahan kimia yang beracun.
Akan tetapi, Joel Rosenthal dari University of
Delaware's Departement of Chemistry and Biochemistry, telah menemukan
katalis yang murah yang dapat mengubah gas CO2 menjadi gas
CO. Perlu diketahui, selama ini gas CO merupakan bahan kimia yang
cukup luas penggunaannya. Diantara penggunaannya adalah sebagai bahan
baku untuk membuat gas Hidrogen, metanol, bahan bakar sintesis, dan
lain-lain.
Perlu diketahui pula, katalis untuk mengubah gas CO2
menjadi gas CO juga sudah ada, yaitu emas dan perak. Akan tetapi,
sebagaimana kita ketahui, emas dan perak sangatlah mahal karena
merupakan bahan baku perhiasan. Rosenthal telah berhasil menemukan
suatu logam yang dapat digunakan sebagai katalis yang lebih murah
daripada emas dan perak. Logam tersebut adalah Bismuth, suatu logam
keperakan yang sedikit berwarna merah muda mengkilap.
Rosenthal dan timnya telah merintis pengembangan
alternatif katalis yang lebih murah daripada emas dan perak. Salah
satu senyawanya merupakan komponen kunci dalam pepto-bismol, suatu
obat mujarab yang dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut.
Lebih lanjut lagi, Rosethal mengatakan katalis yang
sudah dipatenkannya tersebut menawarkan kelebihan yang sangat
penting, yaitu selektifitas dan efisiensi dalam mengkonversi
karbondioksida menjadi bahan bakar.
Rosenthal menjelaskan : “Sebagian besar katalis
tidak bersifat selektif mengubah karbondioksida menjadi hanya satu
senyawa saja (karbonmonoksida). Tujuan kami ada dua, yaitu membuat
katalis yang sangat selektif dalam menghasilkan karbonmonoksida, dan
menjalankan reaksi menggunakan energi matahari”.
Karbonmonoksida digunakan di industri dalam reaksi
pergeseran gas-air untuk membuat gas hidrogen. Gas ini juga
merupakan bahan baku utama untuk proses Fischer-Tropsh, suatu proses
yang secara luas telah digunakan untuk membuat dua bahan bakar minyak
sintesis : bensin dan solar.
Rosenthal mengatakan bahwa jika di masa mendatang
emisi karbondioksida dikenakan pajak yang tinggi karena perhatian
pada pemanasan global, maka katalis buatannya yang menggunakan energi
matahari untuk membuat bahan bakar minyak sintesis, akan berkompetisi
secara ekonomis dengan bahan bakar fosil.
Rosenthal selanjutnya berkata : “Katalis ini
merupakan sesuatu yang sangat vital dan penting, menggunakan energi
matahari untuk mendorong produksi bahan bakar cair seperti bensin
dari CO2 adalah salah satu “cawan suci” (sesuatu yang
paling dicari-cari) dalam riset energi terbarukan. Untuk melakukan
hal ini pada skala praktek, katalis yang murah yang dapat mengubah
karbondioksida menjadi senyawa yang kaya akan energi sangatlah
dibutuhkan. Penemuan kami sangatlah penting dalam konteks ini, dan
memperlihatkan bahwa pengembangan katalis dan material yang baru
dapat menyelesaikan masalah ini. Para kimiawan memiliki peran yang
besar untuk bermain di bidang ini”.
“Untuk mendukung kemajuan ini, ada sedikitnya satu
lusin perangkat yang kita butuhkan untuk menindaklanjutinya. Satu
studi yang sukses biasanya membawa pada pertanyaan dan kemungkinan
yang lain, bukan jawaban final” ujarnya menambahkan.
Perlu diketahui, para ahli saat ini sedang
giat-giatnya mencari cara untuk mengatasi melimpahnya polusi gas
karbondioksida di atmosfer. Selain untuk membuat bahan bakar minyak
sintesis seperti yang dilakukan Rosenthal, ada juga riset lain yang
dilakukan oleh sebagian ahli untuk mengatasi masalah gas
karbondioksida ini.
Skyonic, suatu perusahaan yang telah berhasil
mengubah gas CO2 menjadi soda kue, telah mampu
mengumpulkan modal sebesar $128 juta. Ada lagi ilmuwan lain dari
University of Texas yang saat ini sedang mencoba mengubah gas CO2
menjadi metanol cair menggunakan kawat ukuran nano yang terbuat dari
tembaga (II) oksida dan sinar matahari. Ilmuwan lain dari University
of Georgia telah mampu membuat mikroorgainsme “pemakan” gas CO2
yang kemudian gas CO2 yang tertangkap ini bisa
dimanipulasi untuk membuat bahan kimia yang menjadi bahan baku
plastik dan BBM.
Sumber :
Minggu, 29 September 2013
Gas Karbondioksida dapat menjadi sumber energi baru (1)
Tahukah anda, gas karbondioksida yang selama ini dianggap sebagai polutan, ternyata bisa juga menjadi sumber energi. Di Reaktor The Belchatow, salah satu pembangkit listrik tenaga batu bara di Polandia, Sebuah tim peneliti dari Belanda, telah menemukan suatu cara untuk “memanen” energi dari emisi yang dikeluarkan dari reaktor tersebut.
Stasiun Pembangkit listrik di seluruh dunia,
melepaskan 12 milyar ton karbondioksida setiap tahun akibat dari
pembakaran batu bara, minyak, atau gas alam. Sementara itu, kompor
dan pemanas ruangan menyumbangkan 11 milyar ton karbondioksida. Suatu
jumlah yang sangat besar yang jika dapat dimanfaatkan, akan
memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Kini, sebuah tim dari
peneliti belanda, telah berhasil memanfaatkannya.
Dalam eksperimen yang mereka lakukan, mereka
beranggapan bahwa gas karbondioksida yang dialirkan melalui air atau
cairan lainnya, akan menghasilkan aliran elektron yang selanjutnya
dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik.
Proses ini cukup untuk menciptakan energi listrik
ekstra sebesar 1750 terrawatt jam (atau sekitar 1,75 triliun Kwh per
tahun (sekitar 400 kali jumlah listrik yang dihasilkan Bendungan
Hoover di Nevada. Hal ini terjadi tanpa disertai penambahan jumlah
karbondioksida ke atmosfer. Gas buang dari satu siklus produksi
listrik, dapat digunakan secara langsung untuk menghasilkan aliran
listrik yang lain menuju grid (jaringan yang saling bersambungan
mengalirkan listrik).
Mereka membuat klaimnya dalam jurnal
Environmental
Science and Technology Letters,
yang dipublikasikan oleh the American
Chemical Society. Klaim tersebut
bersandarkan pada teknik yang sudah berumur 200 tahun yang dimulai
oleh Sir
Humphry Davy dan Michael Faraday, yaitu teknik elektrolisis.
Di balik alasan tersebut adalah logika yang
sederhana, yaitu bahwa setiap peristiwa kimia akan melibatkan
pertukaran energi. Dalam larutan, pergerakan energi ini melibatkan
pergerakan elektron dan ion-ion yang bermigrasi di antara anoda dan
katoda. Dalam proses pencampuran dua larutan yang berbeda, campuran
akhir akan memiliki nilai energi yang lebih rendah daripada energi
masing-masing jika dijumlahkan. Akan tetapi, karena energi tidak
dapat diciptakan maupun dihancurkan (oleh manusia), maka harus ada
sebagian energi yang dapat digunakan.
Bert Hamelers dari Wetsus, suatu kolaborasi dari
beberapa perusahaan dan lembaga riset yang berbasis di Belanda, dan
kolega-koleganya dari Wageningen University, melaporkan bahwa mereka
menggunakan elektroda berpori dan karbondioksida yang disemprotkan ke
dalam air. Mereka memperoleh aliran listrik ketika gas karbondioksida
bereaksi dengan air menghasilkan asam karbonat, yang kemudian terurai
menjadi dua elektrolit yaitu ion hidrogen dan ion bikarbonat.
Ketika
pH larutan meningkat, ion bikarbonat (
HCO3-) kemudian dapat berubah menjadi ion karbonat (
CO32-).
Semakin besar tekanan gas CO2, maka banyak pula
jumlah ion yang ada dalam larutan.
Dalam eksperimennya, mereka menemukan bahwa ketika
mereka menyemprotkan larutan elektrolit tersebut mengunakan udara,
diantara dua elektroda berpori, aliran listrik mulai terbentuk.
Karena udara yang keluar dari cerobong asap dari stasiun pembangkit
listrik mengandung lebih dari 20 persen gas karbondioksida, maka
memproduksi listrik dengan cara ini sangatlah menjanjikan.
Mereka menemukan bahwa mereka dapat memperoleh energi
yang lebih besar jika cairan yang digunakan bukan air, namun senyawa
monoetanolamin. Dalam beberapa percobaan, cara ini dapat menghasilkan
rapat energi sebesar 4,5 mW per m2.
Ironisnya adalah bahwa energi listrik ini sebenarnya
sudah tersedia melimpah di lubang cerobong asap dari pembangkit
tenaga listrik di seluruh dunia.
Tidak ada orang yang memiliki cara untuk memanen
energi ini secara langsung, namun suatu percobaan sederhana yang
sudah kuno di laboratorium, telah menunjukkan bahwa sejumlah besar
potensi energi telah terbuang percuma setiap hari, dengan cara yang
tidak terduga.
Butuh investasi yang luar biasa besar – dan
sejumlah besar kecerdikan rekayasa – untuk mengubah gas rumah kaca
menjadi energi listrik, akan tetapi riset tersebut merupakan
pengingat bahwa semua ilmuwan di mana saja mereka berada, sedang dan
akan terus senantiasa mencari cara yang cerdas untuk memenuhi energi
bagi planet ini.
Sumber : http://www.scientificamerican.com/
Jumat, 14 Desember 2012
BANK SOAL KIMIA SEMESTER I
1.
Percobaan mana yang mengarahkan pada keyakinan bahwa atom mengandung
inti yang sangat kecil yang bermuatan positif?
(A)
Percobaan tetesan minyak Millikan
(B) Percobaan hamburan Rutherford
(C) Percobaan Thompson dengan tabung sinar katoda
(D) Percobaan Moseley dengan emisi sinar X oleh logam
(B) Percobaan hamburan Rutherford
(C) Percobaan Thompson dengan tabung sinar katoda
(D) Percobaan Moseley dengan emisi sinar X oleh logam
2.
Jika suatu atom netral memiliki nomor atom 29 dan nomor massa 61,
maka atom tersebut mengandung
(A)
90 netron
(B) 61 elektron
(C) 29 netron
(D) 29 elektron
(B) 61 elektron
(C) 29 netron
(D) 29 elektron
3. 40Ca,
39K,
dan 41Sc
memiliki kesamaan
(A)
jumlah elektron.
(B) nomor atom.
(C) nomor massa.
(D) jumlah netron.
(B) nomor atom.
(C) nomor massa.
(D) jumlah netron.
4.
Atom X memiliki 9 proton, 9 elektron, dan 10 netron. Atom Y memiliki
10 proton, 10 elektron, dan 9 netron. Dapat disimpulkan bahwa
(A)
atom X dan Y adalah isotop.
(B) atom X lebih berat daripada atom Y.
(C) atom X dan Y memiliki nomor massa yang sama.
(D) atom X dan Y memiliki nomor atom yang sama.
(B) atom X lebih berat daripada atom Y.
(C) atom X dan Y memiliki nomor massa yang sama.
(D) atom X dan Y memiliki nomor atom yang sama.
5. Pernyataan
berikut yang berkaitan dengan sifat unsur dalam tabel periodik yang
tepat adalah ?
(A)
Ukuran atom semakin kecil dari atas ke bawah (dalam satu
golongan).
(B) Ukuran atom semakin besar dari Fr di golongan I ke F di golongan VII.
(C) Ukuran atom semakin kecil dari kiri ke kanan (dalam satu periode).
(D) Semua atom dalam golongan yang sama memiliki ukuran yang sama.
(B) Ukuran atom semakin besar dari Fr di golongan I ke F di golongan VII.
(C) Ukuran atom semakin kecil dari kiri ke kanan (dalam satu periode).
(D) Semua atom dalam golongan yang sama memiliki ukuran yang sama.
6.
Deretan unsur-unsur berikut yang diurut berdasarkan kenaikan
elektronegativitas adalah?
(A)
O, S, Se, Te
(B) Cl, S, P, Si
(C) In, Sn, N, O
(D) C, Si, P, Se
(B) Cl, S, P, Si
(C) In, Sn, N, O
(D) C, Si, P, Se
7. Energi ionisasi
pertama untuk satu mol atom magnesium adalah energi yang dibutuhkan
untuk melakukan proses
(A)
Mg(s) → Mg(g)
(B) Mg(g) → Mg+(g) + 2e
(C) Mg+(g) → Mg2+(g) + e
(D) Mg(g) → Mg+(g) + e
(B) Mg(g) → Mg+(g) + 2e
(C) Mg+(g) → Mg2+(g) + e
(D) Mg(g) → Mg+(g) + e
8.
Atom gas manakah yang memiliki energi ionisasi kedua yang
paling besar?
(A)
C
(B) Li
(C) F
(D) Ne
(B) Li
(C) F
(D) Ne
9. Manakah atom yang
paling elektronegatif?
(A)
P
(B) Al
(C) Cl
(D) S
(B) Al
(C) Cl
(D) S
10.
Suatu sampel galium memiliki massa atom sebesar 69.8. Jika sampel
tersebut terdiri atas dua isotop yang massanya berturut-turut 69,0
dan 71,0 ; tentukan persentase rata-rata dari isotop yang paling
ringan dalam sampel tersebut ?
(A)
80,0 %
(B) 60,0 %
(C) 40,0 %
(D) 20,0 %
(B) 60,0 %
(C) 40,0 %
(D) 20,0 %
11. Dalam keadaan
senyawa yang stabil, logam alkali tanah biasanya terdapat dalam
bentuk
(A)
kation M+
(B) kation M2+
(C) atom M
(D) anion M¯
(B) kation M2+
(C) atom M
(D) anion M¯
12. Molekul yang
paling mungkin terbentuk antara boron dan klorin adalah
(A)
BCl
(B) BCl3
(C) BCl4
(D) BCl6
(B) BCl3
(C) BCl4
(D) BCl6
13. Ikatan yang
paling pendek terdapat pada molekul
(A)
F2
(B) O2
(C) N2
(D) C2
(B) O2
(C) N2
(D) C2
14.
Atom T memiliki 3 elektron valensi dan atom S memiliki 6 elektron
valensi. Rumus kimia dari senyawa yang terbentuk antara unsur T dan
unsur S adalah
(A)
T2S3
(B) T3S2
(C) TS3
(D) T2S
(B) T3S2
(C) TS3
(D) T2S
15. "Alkohol
kayu" (metil alkohol atau metanol), CH4O,
bersifat racun dan digunakan sebagai denaturan dalam industri alkohol
biji-bijian (etanol) dan sebagai bahan bakar. Struktur lewis dari
senyawa ini adalah
16. Hidrogen
trioksida (H2O3),
suatu senyawa yang tidak stabil dan reaktif yang berkaitan dengan
hidrogen peroksida, telah dibuat dalam jumlah kecil akhir-akhir ini.
Manakah struktur lewis yang tepat untuk menggambarkan molekul
hidrogen trioksida?
17.
Zat manakah yang paling mudah larut dalam air?
(A)
C6H6
(B) CH3OH
(C) CO2
(D) CH4
(B) CH3OH
(C) CO2
(D) CH4
18. Rumus kimia dari
senyawa amonium karbonat adalah
(A)
NH4CO3
(B) NH4CO4
(C) NH4HCO3
(D) (NH4)2CO3
(B) NH4CO4
(C) NH4HCO3
(D) (NH4)2CO3
JAWABAN
SOAL KIMIA SEMESTER I
1.
Jawab : B
cukup
jelas
2.
Jawab : D
Jumlah elektron =
jumlah proton = nomor atom
3. Jawab : D
Jumlah
netron = nomor massa dikurangi nomor atom (nomor atom dapat dilihat
dari tabel periodik)
4.
Jawab : C
Nomor massa = jumlah
proton + jumlah netron
5. Jawab
: C
cukup
jelas
6.
Jawab : C
Elektronegativitas
meningkat dari bawah ke atas ke kanan.
7. Jawab
: D
Energi
ionisasi pertama adalah energi yang dibutuhkan oleh suatu atom dalam
keadaan gas untuk melepaskan satu buah
elektron terluarnya
8.
Jawab : B
Energi
ionisasi kedua adalah energi yang dibutuhkan untuk melepaskan
elektron terluar kedua atau
elektron terluar yang dilepaskan dari suatu ion positif (+1). Karena
elektron terluar ion Li+
berada pada kulit pertama, maka energi ionisasinya sangatlah besar.
9. Jawab : Cl
Atom
yang paling elektronegatif adalah yang terletak paling kanan atas
10.
Jawab : B
Ar
rata-rata = Ar1.P1 + Ar1.P2 .... (1)
P1
+ P2 = 1 ....................................(2)
Sehingga
:
69,8
= 69.P1 + 71.P2
karena
P1 + P2 = 1, maka P2 = 1 – P1, sehingga
69,8
= 69.P1 + 71.(1 – P1)
69,8
= 69.P1 + 71 – 71.P1
-1,2
= -2.P1
P1
= 0,6
Jadi,
persentase isotop yang paling ringan (P1) adalah 0,6 atau 60 %
11. Jawab : B
Unsur-unsur logam
alkali tanah memiliki dua buah elektron valensi. Mereka akan lebih
stabil ketika melepaskan dua buah elektron terluarnya menjadi ion M2+
12. Jawab : B
Boron memiliki tiga
buah elektron valensi, sehingga senyawa yang terbentuk akan memiliki
valensi tiga
13. Jawab
: C
Secara
teori, semakin banyak elektron yang menyusun suatu ikatan, maka
semakin pendek dan kuat ikatannya. Jadi, ikatan rangkap dua (pada
molekul O2) lebih pendek daripada ikatan tunggal (pada
molekul F2) , sedangkan ikatan rangkap tiga (pada molekul
N2) lebih pendek daripada ikatan rangkap dua. Sementara
itu, ikatan rangkap 4 (pada molekul C2), seharusnya lebih
pendek daripada ikatan rangkap 3, namun karena dalam kenyataannya
tidak ada ikatan rangkap 4, maka ikatan yang paling pendek adalah
ikatan rangkap 3.
14.
Jawab : A
T
memiliki 3 ev sehingga cenderung melepas 3e (menjadi T3+)
S
memiliki 6 ev sehingga cenderung menangkap 2e (menjadi S2-)
dengan
menggunakan metode gunting (muatan T menjadi indeks S, dan muatan S
menjadi indeks T), maka didapat rumus kimia T2S3
15. Jawab
: C
cukup
jelas
16. Jawab
: C
Ingat,
atom H selalu menjadi atom terminal (di ujung) dan hanya dikelilingi
oleh dua elektron valensi
17.
Jawab : B
Kelarutan berkaitan
dengan kepolaran dan kemiripan struktur. Karena CH3OH
memiliki ikatan O-H, maka dia akan mudah larut dalam air (H2O)
yang juga memiliki ikatan O-H.
18. Jawab
: D
ion
NH4+ bermuatan +1, sedangkan ion CO32-
bermuatan -2, dengan menggunakan metode gunting, maka akan didapat
rumus molekul (NH4)2CO3.
Langganan:
Postingan (Atom)








