Masih berkaitan dengan karbondioksida. Selain
digunakan untuk menghasilkan energi listrik, ternyata para ahli juga
menemukan bahwa karbondioksida dapat dijadikan sebagai sumber
potensial untuk menghasilkan bahan bakar minyak.
Karbondioksida adalah hasil samping dari pembakaran
glukosa dalam tubuh semua makhluk hidup. Tanaman akan mengubah gas
karbondioksida menjadi glukosa kembali yang kemudian dapat dikonsumsi
lagi oleh makhluk hidup. Siklus ini terus berulang yang menjadikan
jumlah karbondioksida di atmosfer senantiasa konstan.
Akan tetapi, pembakaran bahan bakar minyak oleh
kendaraan, kompor, dan pembangkit tenaga listrik, menjadikan jumlah
karbondioksida yang ada di atmosfer mengalami kenaikan yang drastis.
Hal ini jika dibiarkan, akan menyebabkan terjadinya pemanasan global,
karena gas karbondioksida merupakan salah satu gas rumah kaca.
Para ahli sudah memperingatkan akan bahaya ini,
sehingga memaksa perusahaan-perusahaan yang berpotensi melepaskan gas
karbondioksida dalam jumlah besar ke atmosfer (seperti reaktor
pembangkit tenaga listrik), untuk menangkap gas karbondioksida yang
dilepaskan supaya tidak mencemari udara.
Tahap pertama ini tidaklah sulit untuk dilakukan.
Akan tetapi yang sulit adalah proses penanganan selanjutnya.
Menginjeksikan gas karbondioksida ke dalam bumi sangatlah mahal,
sedangkan mengubahnya menjadi bahan bakar, membutuhkan energi yang
sangat besar dan terkadang menggunakan bahan kimia yang beracun.
Akan tetapi, Joel Rosenthal dari University of
Delaware's Departement of Chemistry and Biochemistry, telah menemukan
katalis yang murah yang dapat mengubah gas CO2 menjadi gas
CO. Perlu diketahui, selama ini gas CO merupakan bahan kimia yang
cukup luas penggunaannya. Diantara penggunaannya adalah sebagai bahan
baku untuk membuat gas Hidrogen, metanol, bahan bakar sintesis, dan
lain-lain.
Perlu diketahui pula, katalis untuk mengubah gas CO2
menjadi gas CO juga sudah ada, yaitu emas dan perak. Akan tetapi,
sebagaimana kita ketahui, emas dan perak sangatlah mahal karena
merupakan bahan baku perhiasan. Rosenthal telah berhasil menemukan
suatu logam yang dapat digunakan sebagai katalis yang lebih murah
daripada emas dan perak. Logam tersebut adalah Bismuth, suatu logam
keperakan yang sedikit berwarna merah muda mengkilap.
Rosenthal dan timnya telah merintis pengembangan
alternatif katalis yang lebih murah daripada emas dan perak. Salah
satu senyawanya merupakan komponen kunci dalam pepto-bismol, suatu
obat mujarab yang dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut.
Lebih lanjut lagi, Rosethal mengatakan katalis yang
sudah dipatenkannya tersebut menawarkan kelebihan yang sangat
penting, yaitu selektifitas dan efisiensi dalam mengkonversi
karbondioksida menjadi bahan bakar.
Rosenthal menjelaskan : “Sebagian besar katalis
tidak bersifat selektif mengubah karbondioksida menjadi hanya satu
senyawa saja (karbonmonoksida). Tujuan kami ada dua, yaitu membuat
katalis yang sangat selektif dalam menghasilkan karbonmonoksida, dan
menjalankan reaksi menggunakan energi matahari”.
Karbonmonoksida digunakan di industri dalam reaksi
pergeseran gas-air untuk membuat gas hidrogen. Gas ini juga
merupakan bahan baku utama untuk proses Fischer-Tropsh, suatu proses
yang secara luas telah digunakan untuk membuat dua bahan bakar minyak
sintesis : bensin dan solar.
Rosenthal mengatakan bahwa jika di masa mendatang
emisi karbondioksida dikenakan pajak yang tinggi karena perhatian
pada pemanasan global, maka katalis buatannya yang menggunakan energi
matahari untuk membuat bahan bakar minyak sintesis, akan berkompetisi
secara ekonomis dengan bahan bakar fosil.
Rosenthal selanjutnya berkata : “Katalis ini
merupakan sesuatu yang sangat vital dan penting, menggunakan energi
matahari untuk mendorong produksi bahan bakar cair seperti bensin
dari CO2 adalah salah satu “cawan suci” (sesuatu yang
paling dicari-cari) dalam riset energi terbarukan. Untuk melakukan
hal ini pada skala praktek, katalis yang murah yang dapat mengubah
karbondioksida menjadi senyawa yang kaya akan energi sangatlah
dibutuhkan. Penemuan kami sangatlah penting dalam konteks ini, dan
memperlihatkan bahwa pengembangan katalis dan material yang baru
dapat menyelesaikan masalah ini. Para kimiawan memiliki peran yang
besar untuk bermain di bidang ini”.
“Untuk mendukung kemajuan ini, ada sedikitnya satu
lusin perangkat yang kita butuhkan untuk menindaklanjutinya. Satu
studi yang sukses biasanya membawa pada pertanyaan dan kemungkinan
yang lain, bukan jawaban final” ujarnya menambahkan.
Perlu diketahui, para ahli saat ini sedang
giat-giatnya mencari cara untuk mengatasi melimpahnya polusi gas
karbondioksida di atmosfer. Selain untuk membuat bahan bakar minyak
sintesis seperti yang dilakukan Rosenthal, ada juga riset lain yang
dilakukan oleh sebagian ahli untuk mengatasi masalah gas
karbondioksida ini.
Skyonic, suatu perusahaan yang telah berhasil
mengubah gas CO2 menjadi soda kue, telah mampu
mengumpulkan modal sebesar $128 juta. Ada lagi ilmuwan lain dari
University of Texas yang saat ini sedang mencoba mengubah gas CO2
menjadi metanol cair menggunakan kawat ukuran nano yang terbuat dari
tembaga (II) oksida dan sinar matahari. Ilmuwan lain dari University
of Georgia telah mampu membuat mikroorgainsme “pemakan” gas CO2
yang kemudian gas CO2 yang tertangkap ini bisa
dimanipulasi untuk membuat bahan kimia yang menjadi bahan baku
plastik dan BBM.
Sumber :
0 komentar:
Posting Komentar