Blogger news

Rabu, 02 Oktober 2013

Gas Karbondioksida dapat menjadi sumber energi baru (2)


Masih berkaitan dengan karbondioksida. Selain digunakan untuk menghasilkan energi listrik, ternyata para ahli juga menemukan bahwa karbondioksida dapat dijadikan sebagai sumber potensial untuk menghasilkan bahan bakar minyak.
Karbondioksida adalah hasil samping dari pembakaran glukosa dalam tubuh semua makhluk hidup. Tanaman akan mengubah gas karbondioksida menjadi glukosa kembali yang kemudian dapat dikonsumsi lagi oleh makhluk hidup. Siklus ini terus berulang yang menjadikan jumlah karbondioksida di atmosfer senantiasa konstan.
Akan tetapi, pembakaran bahan bakar minyak oleh kendaraan, kompor, dan pembangkit tenaga listrik, menjadikan jumlah karbondioksida yang ada di atmosfer mengalami kenaikan yang drastis. Hal ini jika dibiarkan, akan menyebabkan terjadinya pemanasan global, karena gas karbondioksida merupakan salah satu gas rumah kaca.
Para ahli sudah memperingatkan akan bahaya ini, sehingga memaksa perusahaan-perusahaan yang berpotensi melepaskan gas karbondioksida dalam jumlah besar ke atmosfer (seperti reaktor pembangkit tenaga listrik), untuk menangkap gas karbondioksida yang dilepaskan supaya tidak mencemari udara.
Tahap pertama ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Akan tetapi yang sulit adalah proses penanganan selanjutnya. Menginjeksikan gas karbondioksida ke dalam bumi sangatlah mahal, sedangkan mengubahnya menjadi bahan bakar, membutuhkan energi yang sangat besar dan terkadang menggunakan bahan kimia yang beracun.
Akan tetapi, Joel Rosenthal dari University of Delaware's Departement of Chemistry and Biochemistry, telah menemukan katalis yang murah yang dapat mengubah gas CO2 menjadi gas CO. Perlu diketahui, selama ini gas CO merupakan bahan kimia yang cukup luas penggunaannya. Diantara penggunaannya adalah sebagai bahan baku untuk membuat gas Hidrogen, metanol, bahan bakar sintesis, dan lain-lain.
Perlu diketahui pula, katalis untuk mengubah gas CO2 menjadi gas CO juga sudah ada, yaitu emas dan perak. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui, emas dan perak sangatlah mahal karena merupakan bahan baku perhiasan. Rosenthal telah berhasil menemukan suatu logam yang dapat digunakan sebagai katalis yang lebih murah daripada emas dan perak. Logam tersebut adalah Bismuth, suatu logam keperakan yang sedikit berwarna merah muda mengkilap.
Rosenthal dan timnya telah merintis pengembangan alternatif katalis yang lebih murah daripada emas dan perak. Salah satu senyawanya merupakan komponen kunci dalam pepto-bismol, suatu obat mujarab yang dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut.
Lebih lanjut lagi, Rosethal mengatakan katalis yang sudah dipatenkannya tersebut menawarkan kelebihan yang sangat penting, yaitu selektifitas dan efisiensi dalam mengkonversi karbondioksida menjadi bahan bakar.
Rosenthal menjelaskan : “Sebagian besar katalis tidak bersifat selektif mengubah karbondioksida menjadi hanya satu senyawa saja (karbonmonoksida). Tujuan kami ada dua, yaitu membuat katalis yang sangat selektif dalam menghasilkan karbonmonoksida, dan menjalankan reaksi menggunakan energi matahari”.
Karbonmonoksida digunakan di industri dalam reaksi pergeseran gas-air untuk membuat gas hidrogen. Gas ini juga merupakan bahan baku utama untuk proses Fischer-Tropsh, suatu proses yang secara luas telah digunakan untuk membuat dua bahan bakar minyak sintesis : bensin dan solar.
Rosenthal mengatakan bahwa jika di masa mendatang emisi karbondioksida dikenakan pajak yang tinggi karena perhatian pada pemanasan global, maka katalis buatannya yang menggunakan energi matahari untuk membuat bahan bakar minyak sintesis, akan berkompetisi secara ekonomis dengan bahan bakar fosil.
Rosenthal selanjutnya berkata : “Katalis ini merupakan sesuatu yang sangat vital dan penting, menggunakan energi matahari untuk mendorong produksi bahan bakar cair seperti bensin dari CO2 adalah salah satu “cawan suci” (sesuatu yang paling dicari-cari) dalam riset energi terbarukan. Untuk melakukan hal ini pada skala praktek, katalis yang murah yang dapat mengubah karbondioksida menjadi senyawa yang kaya akan energi sangatlah dibutuhkan. Penemuan kami sangatlah penting dalam konteks ini, dan memperlihatkan bahwa pengembangan katalis dan material yang baru dapat menyelesaikan masalah ini. Para kimiawan memiliki peran yang besar untuk bermain di bidang ini”.
“Untuk mendukung kemajuan ini, ada sedikitnya satu lusin perangkat yang kita butuhkan untuk menindaklanjutinya. Satu studi yang sukses biasanya membawa pada pertanyaan dan kemungkinan yang lain, bukan jawaban final” ujarnya menambahkan.
Perlu diketahui, para ahli saat ini sedang giat-giatnya mencari cara untuk mengatasi melimpahnya polusi gas karbondioksida di atmosfer. Selain untuk membuat bahan bakar minyak sintesis seperti yang dilakukan Rosenthal, ada juga riset lain yang dilakukan oleh sebagian ahli untuk mengatasi masalah gas karbondioksida ini.
Skyonic, suatu perusahaan yang telah berhasil mengubah gas CO2 menjadi soda kue, telah mampu mengumpulkan modal sebesar $128 juta. Ada lagi ilmuwan lain dari University of Texas yang saat ini sedang mencoba mengubah gas CO2 menjadi metanol cair menggunakan kawat ukuran nano yang terbuat dari tembaga (II) oksida dan sinar matahari. Ilmuwan lain dari University of Georgia telah mampu membuat mikroorgainsme “pemakan” gas CO2 yang kemudian gas CO2 yang tertangkap ini bisa dimanipulasi untuk membuat bahan kimia yang menjadi bahan baku plastik dan BBM.
Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar