Gas metana (CH4) adalah senyawa
hidrokarbon paling sederhana yang berwujud gas pada suhu kamar. Gas
ini telah diidentifikasi oleh para ilmuwan sebagai salah satu gas
rumah kaca yang dapat menimbulkan pemanasan global.
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa kadar metana
meningkat sejak tahun 1850-an, sebagai dampak dari Revolusi industri
yang berlangsung pada masa itu.
Walaupun begitu, pada hari ini pun sangatlah sulit
untuk menentukan sebagian besar peningkatan emisi gas metan tersebut
berasal dari lahan basah (rawa-rawa dan persawahan), ataukah
lapangan pengeboran minyak.
Karena metan adalah gas rumah kaca yang sangat kuat,
maka jika para ilmuwan mengetahui sumber peningkatan gas tersebut,
maka para pembuat kebijakan dapat membuat target pengurangan emisi
gas metan.
“Metana sangatlah penting. Gas ini adalah gas yang
memungkinkan kita untuk melakukan tindakan”, ujar Philip Bousquet,
seorang peneliti di the Climate and Environmental Sciences
Laboratory di Perancis.
Tulisan Bousquet adalah suatu upaya untuk
mempersiapkan secara komperhensif apa yang diketahui tentang sumber
gas metana dan reservoir yang dapat menyerap gas metana, dan untuk
menggarisbawahi cara untuk meningkatkan pengetahuan kita dari mana
gas metana berasal.
Secara kasar, gas metana dapat dibagi ke dalam 3
kategori berdasarkan asalnya. Para ilmuwan dapat membedakan ketiga
sumber yang berbeda tersebut berdasarkan sifat kimianya.
Rawa-rawa masih menjadi misteri
Sumber
pertama adalah mikroba yang mengeluarkan gas metana. Metana jenis
ini muncul dari lingkungan yang minim oksigen seperti rawa-rawa,
sawah, dan tempat pembuangan sampah (TPA). Suatu hal yang cukup unik
juga bahwa metana dihasilkan oleh rayap dan perut sapi. Bahkan,
metana yang dihasilkan oleh sapi sama besarnya dengan metana yang
dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
Sumber kedua adalah bahan bakar fosil. Metana jenis
ini dihasilkan ketika batu bara, minyak, dan gas alam dikeruk dari
perut bumi, dan juga dihasilkan selama pengangkutan dan pembakaran.
Sumber ketiga adalah dari pembakaran biomassa (kayu
bakar, jerami, dll). Sumber ini sebagian besarnya merupakan akibat
perbuatan manusia.
Pada tahun 1850-an, kadar metana secara global
adalah sekitar 830 ppb di atmosfer. Pada tahun 2010, jumlah ini naik
menjadi 1770 ppb. Meskipun demikian, peningkatan ini tidak selalu
tetap.
Konsentrasi metana secara signifikan naik pada tahun
1980-an, namun dari tahun 1999 sampai 2006, hampir tidak terjadi
perubahan. Sejak tahun 2006, kadarnya naik lagi. Namun, penyebab
sebenarnya masih membutuhkan penelitian.
Penulis laporan berspekulasi bahwa, sejak tahun
2006, emisi dari lahan basah mengalami peningkatan karena tingginya
suhu di daerah lintang tinggi dan banyaknya hujan di lahan basah
daerah tropis selama La Nina (lawan dari El Nino). Para ilmuwan juga
menduga bahwa emisi bahan bakar dari meningkatnya eksplorasi batu
bara di Asia dan ledakan minyak dan gas di Amerika Serikat.
“Beberapa kombinasi dari lahan basah dan bahan
bakar fosil adalah penyebab peningkatan ini di beberapa tahun
terakhir, namun jumlah pastinya kita belum bisa mengatakannya
sekarang” ujar Isobel Simpson, seorang ahli kimia atmosfer di
Unversity of California dan juga merangkap sebagai salah seorang
penulis laporan tersebut.
Para penulis menekankan beberapa bagian untuk
perbaikan. Bousquet menggarisbawahi lahan basah tropis, merupakan
sumber metana alam yang signifikan, sebagaimana riset dibutuhkan.
“Lahan basah merupakan sumber yang terbesar, dan
juga merupakan salah satu yang tidak jelas. Kita benar-benar butuh
melakukan kerja keras untuk mengurangi penyebaran lahan basah”
ujarnya juga
Para penulis juga menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengukur gas metan di daerah tropis, yang banyak mengandung lahan
basah dan mengalami kekurangan stasiun pengontrol. Kebutuhan lain
melibatkan perbaikan persediaan sumber metana, seperti bagaimana gas
ini diemisikan dari siklus produksi gas alam, suatu bidang yang
menjadi riset secara aktif pada waktu ini, Simpson menekankan.
Sumber : http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=global-methane-releases-could-be-wetlands-or-wellheads


0 komentar:
Posting Komentar