Blogger news

Senin, 07 Oktober 2013

Dari manakah gas metan dihasilkan ?


Gas metana (CH4) adalah senyawa hidrokarbon paling sederhana yang berwujud gas pada suhu kamar. Gas ini telah diidentifikasi oleh para ilmuwan sebagai salah satu gas rumah kaca yang dapat menimbulkan pemanasan global.
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa kadar metana meningkat sejak tahun 1850-an, sebagai dampak dari Revolusi industri yang berlangsung pada masa itu.
Walaupun begitu, pada hari ini pun sangatlah sulit untuk menentukan sebagian besar peningkatan emisi gas metan tersebut berasal dari lahan basah (rawa-rawa dan persawahan), ataukah lapangan pengeboran minyak.

Karena metan adalah gas rumah kaca yang sangat kuat, maka jika para ilmuwan mengetahui sumber peningkatan gas tersebut, maka para pembuat kebijakan dapat membuat target pengurangan emisi gas metan.
“Metana sangatlah penting. Gas ini adalah gas yang memungkinkan kita untuk melakukan tindakan”, ujar Philip Bousquet, seorang peneliti di the Climate and Environmental Sciences Laboratory di Perancis.
Tulisan Bousquet adalah suatu upaya untuk mempersiapkan secara komperhensif apa yang diketahui tentang sumber gas metana dan reservoir yang dapat menyerap gas metana, dan untuk menggarisbawahi cara untuk meningkatkan pengetahuan kita dari mana gas metana berasal.
Secara kasar, gas metana dapat dibagi ke dalam 3 kategori berdasarkan asalnya. Para ilmuwan dapat membedakan ketiga sumber yang berbeda tersebut berdasarkan sifat kimianya.
Rawa-rawa masih menjadi misteri
Sumber pertama adalah mikroba yang mengeluarkan gas metana. Metana jenis ini muncul dari lingkungan yang minim oksigen seperti rawa-rawa, sawah, dan tempat pembuangan sampah (TPA). Suatu hal yang cukup unik juga bahwa metana dihasilkan oleh rayap dan perut sapi. Bahkan, metana yang dihasilkan oleh sapi sama besarnya dengan metana yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
Sumber kedua adalah bahan bakar fosil. Metana jenis ini dihasilkan ketika batu bara, minyak, dan gas alam dikeruk dari perut bumi, dan juga dihasilkan selama pengangkutan dan pembakaran.
Sumber ketiga adalah dari pembakaran biomassa (kayu bakar, jerami, dll). Sumber ini sebagian besarnya merupakan akibat perbuatan manusia.
Pada tahun 1850-an, kadar metana secara global adalah sekitar 830 ppb di atmosfer. Pada tahun 2010, jumlah ini naik menjadi 1770 ppb. Meskipun demikian, peningkatan ini tidak selalu tetap.
Konsentrasi metana secara signifikan naik pada tahun 1980-an, namun dari tahun 1999 sampai 2006, hampir tidak terjadi perubahan. Sejak tahun 2006, kadarnya naik lagi. Namun, penyebab sebenarnya masih membutuhkan penelitian.
Penulis laporan berspekulasi bahwa, sejak tahun 2006, emisi dari lahan basah mengalami peningkatan karena tingginya suhu di daerah lintang tinggi dan banyaknya hujan di lahan basah daerah tropis selama La Nina (lawan dari El Nino). Para ilmuwan juga menduga bahwa emisi bahan bakar dari meningkatnya eksplorasi batu bara di Asia dan ledakan minyak dan gas di Amerika Serikat.
“Beberapa kombinasi dari lahan basah dan bahan bakar fosil adalah penyebab peningkatan ini di beberapa tahun terakhir, namun jumlah pastinya kita belum bisa mengatakannya sekarang” ujar Isobel Simpson, seorang ahli kimia atmosfer di Unversity of California dan juga merangkap sebagai salah seorang penulis laporan tersebut.
Para penulis menekankan beberapa bagian untuk perbaikan. Bousquet menggarisbawahi lahan basah tropis, merupakan sumber metana alam yang signifikan, sebagaimana riset dibutuhkan.
“Lahan basah merupakan sumber yang terbesar, dan juga merupakan salah satu yang tidak jelas. Kita benar-benar butuh melakukan kerja keras untuk mengurangi penyebaran lahan basah” ujarnya juga
Para penulis juga menggarisbawahi kebutuhan untuk mengukur gas metan di daerah tropis, yang banyak mengandung lahan basah dan mengalami kekurangan stasiun pengontrol. Kebutuhan lain melibatkan perbaikan persediaan sumber metana, seperti bagaimana gas ini diemisikan dari siklus produksi gas alam, suatu bidang yang menjadi riset secara aktif pada waktu ini, Simpson menekankan.

Sumber : http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=global-methane-releases-could-be-wetlands-or-wellheads 





0 komentar:

Posting Komentar