Hideki
Shirakawa, salah seorang penemu di bidang polimer konduktif (atau
yang lebih dikenal sebagai ”logam sintesis“), adalah seorang
kimiawan yang pada tahun 1977, bertanggung jawab terhadap
perkembangan teknologi dalam hal doping poliasetilen (CH)x
secara kimiawi dan secara elektrokimia. Hideki Shirakawa mendapatkan
hadiah Nobel kimia pada tahun 2000 bersama Alan J. Heeger dan Alan G.
McDiarmid. Akademi sains kerajaan Swedia menghadiahkan nobel pada
ketiganya untuk penemuan dan pengembangan polimer konduktif.
Hideki
Shirakawa dilahirkan di Tokyo pada tanggal 20 Agustus 1936. Setelah
lulus dari Tokyo Institute of Technology dalam bidang teknik
kimia pada tahun 1961, dia kemudian melanjutkan kuliah pasca sarjana
di universitas yang sama dan menerima gelar doktor dalam bidang
teknik pada tahun 1966. Selanjutnya dia bekerja sebagai asisten pada
Laboratorium Sumber daya Kimia pada universitas yang sama sampai
tahun 1976, dimana dia kemudian menjadi seorang peneliti di Unversity
of Pennsylvania Amerika Serikat.
Tiga
tahun kemudian, dia kembali ke Jepang dan bergabung menjadi staf di
University of Tsukuba sebagai asosiate professor (suatu
tingkat di atas asisten profesor, namun di bawah profesor penuh).
Pada tahun 1982 dia kemudian menjadi profesor penuh, dan pada bulan
April 2000 dia ditunjuk sebagai profesor emeritus. Tahun 1983 dia
menerima penghargaan dari Perkumpulan polimer Jepang untuk risetnya
dalam poliasetilena.
Hideki
Shirakawa, seorang profesor emeritus pada Universitas Tsukuba, telah
ditetapkan sebagai penerima hadiah nobel tahun 2000. Hadiah tersebut
diberikan kepadanya bersama dengan dua ilmuwan AS, yaitu Alan Heeger
(64 tahun) dari University of California di Santa Barbara, dan
Alan McDiarmid (73 tahun) dari University of Pennsylvania untuk
kerja keras mereka menemukan dan mengembangkan polimer konduktif,
atau plastik yang dapat menghantarkan arus listrik. Shirakawa adalah
orang Jepang kesembilan yang menerima hadiah nobel (secara umum), dan
yang kedua setelah Ken'ichi Fukui yang memenangkan nobel kimia pada
tahun 1981.
Bagaimana
plastik bisa menghantarkan listrik ?
Plastik
adalah salah satu bentuk polimer, suatu rangkaian molekul yang
berbentuk rantai panjang, dengan unit yang berulang-ulang seperti
manik-manik pada kalung. Supaya menjadi konduktor listrik, suatu
polimer harus meniru logam, yaitu elektronnya harus dapat bergerak
bebas dan tidak terikat pada atom. Maka, pertama-tama polimer harus
memiliki ikatan rangkap dan tunggal yang bergantian (mengalami
konjugasi). Akan tetapi, hal ini tidak cukup. Untuk menjadi
penghantar listrik, plastik harus “dikacaukan” baik dengan cara
menghilangkan elektron (oksidasi), maupun memasukkan elektron ke
dalamnya (reduksi). Proses ini dinamakan dengan doping.
Apa
yang ditemukan oleh Heeger, McDiarmid, dan Shirakawa adalah bahwa
lapisan tipis film poliasetilen dapat dioksidasi dengan uap iodin,
sehingga meningkatkan daya hantar listriknya menjadi milyaran kali.
Penemuan sensasional ini adalah hasil dari kerja keras yang
menakjubkan, awal dari lahirnya teknologi modern yang memiliki
aplikasi sangat luas.
Akan
tetapi, sebenarnya penemuan ini didapat karena ketidaksengajaan.
Penemuan tersebut diperoleh dari proses yang tidak diinginkan. Suatu
penemuan yang bagi sebagian orang, mungkin akan dibuang dan dianggap
suatu kegagalan.
Bagaimana
konduktivitas polimer terkuak ?
Yang
menjadi inti dari cerita ini adalah senyawa hidrokarbon poliasetilen,
suatu molekul berbentuk datar dengan sudut 120 derajat diantara
ikatannya sehingga memiliki dua bentuk yang berbeda, yaitu isomer
cis-poliasetilen dan trans-poliasetilen.
Gb. 1 Proses pembentukan poliasetilen
Cerita
tentang polimer konduktif dimulai pada tahun 1960-an. Pada waktu itu,
Shirakawa sedang melakukan riset PhD-nya di bawah bimbingan Sakuji
Ikeda di Tokyo Institute of Technology, untuk memebuat polimer
dari asetilen menggunakan katalis Ziegler-Natta, suatu katalis yang
biasa digunakan untuk membuat polimer. Shirakawa ingin menjelaskan
proses polimerisasi molekul yang berikatan rangkap tiga tersebut.
Suatu
hari, karena terjadi miskomunikasi, seorang pelajar magang yang
berasal dari korea menambahkan katalis dalam jumlah yang melebihi
aturan, sekitar 1000 kali dari yang seharusnya. Akibatnya, suatu
material yang mengkilap dan mirip film, terbentuk di permukaan
larutan katalis. Shirakawa terkesima dengan penemuan ini. Hasil ini
jauh lebih menarik daripada serbuk coklat poliasetilen yang
seharusnya terbentuk. Efek dari konsentrasi katalis yang tinggi
rupanya menghasilkan lebih banyak rantai polimer.
Shirakawa
akhirnya merancang prosedur untuk mensintesis sejumlah besar film
poliasetilen dan untuk mengontrol komposisi dari dua bentuk isomer
dari poliasetilen (isomer cis dan isomer trans). Film keperakan yang
dihasilkan adalah trans-poliasetilen, dan reaksi yang serupa pada
suhu yang lain menghasilkan film yang berwarna merah muda seperti
tembaga. Film yang kedua ini hampir keseluruhannya terdiri dari
cis-poliasetilen.
Gb. 2 cis-poliasetilen berwarna merah muda seperti tembaga, sedangkan trans-poliasetilen berwarna keperakan
Cara
ini (membuat variasi dalam hal suhu dan konsentrasi katalis), menjadi
sangat menentukan pada pengembangan selanjutnya. Penampakan metalik
dari hasil reaksi menjadikan kimiawan berfikir kemungkinan sifat
logam yang dimilikinya. Dalam bentuk yang aslinya, senyawa
poliasetilen bukanlah konduktor yang baik.
Di
bagian dunia yang lain, seorang kimiawan, McDiarmid dan seorang
Fisikawan, Heeger, sedang bereksperimen dengan film yang mirip logam
dari polimer anorganik sulfur nitrida (SN)x. McDiarmid
menunjukkan hal ini pada suatu seminar di Tokyo. Pada saat istirahat,
McDiarmid dan Shirakawa bertemu secara tidak sengaja, dan inilah awal
mula dari penemuan besar yang akan terjadi selanjutnya.
Ketika
McDiarmid mendengar tentang penemuan Shirakawa dalam polimer organik
yang juga berkilau seperti perak, dia mengundang Shirakawa ke
University of Pennsylvania di Philadelphia. Mereka mencoba
memodifikasi poliasetilen melalui oksidasi menggunakan uap iodin.
Shirakawa mengetahui bahwa sifat optik berubah karena proses oksidasi
dan McDiarmid menyarankan bahwa mereka meminta Heeger untuk menelaah
film yang mereka hasilkan. Salah satu mahasiswa Heeger kemudian
mengukur konduktivitas dari film trans-poliasetilen yang sudah
didoping menggunakan iodin, dan hasilnya – eureka !
Konduktivitasnya meningkat sampai puluhan juta kali !
Pada
musim panas tahun 1977, Heeger, McDiarmid, Shirakawa, dan
kawan-kawan, mempublikasikan penemuan mereka dalam artikel “Synthesis
of electrically conducting organic polymers : Halogen derivatives of
polyacetylene (CH)n” dalam Jurnal of
Chemical Society. Penemuan ini merupakan kemajuan yang sangat
besar, karena kemudian bidang ini (polimer konduktif) melesat maju
dengan cepatnya, mendorong kemajuan pada banyak bidang lain baik yang
baru maupun yang sudah ada.
Doping
– untuk penampilan molekul yang lebih baik
Apa
yang sebenarnya terjadi pada film poliasetilen ? Ketika kita
membandingkan beberapa senyawa yang sudah umum dikaitkan dengan
konduktivitasnya, kita melihat bahwa konduktivitas dari polimer
sangat bervariasi. Poliasetilen yang telah didoping dapat
disandingkan dengan konduktor seperti tembaga ataupun perak dalam hal
konduktivitasnya, sementara dalam bentuk aslinya, polimer ini
bersifat semikonduktor. Kawat logam dapat menghantarkan arus listrik
karena elektron pada logam tersebut dapat bergerak dengan bebas.
Lalu, bagaimana konduktivitas dari polimer yang didoping dapat
dijelaskan sifatnya?
Ketika
menggambarkan molekul polimer, kita membedakan antara ikatan sigma
(σ)
dan ikatan pi (π).
Ikatan-ikatan ini bersifat kaku dan tidak dapat bergerak bebas.
Mereka membentuk ikatan kovalen diantara atom-atom karbon.
Elektron-elektron yang terletak pada ikatan rangkap terkonjugasi
(ikatan rangkap yang berselang-seling dengan ikatan tunggal) juga
relatif terlokalisasi (beredar di tempat tertentu), meskipun sedikit
lebih bebas daripada elektron yang membentuk ikatan sigma dan pi.
Gb. 3 Perbandingan
ikatan tunggal (kiri), rangkap (tengah), dan ikatan rangkap terkonjugasi (kanan)
Sebelum
arus dapat mengalir melalui molekul polimer, satu atau lebih elektron
harus dihilangkan dari dalamnya, atau sebaliknya, ditambahkan ke
dalamnya. Jika medan listrik kemudian diberikan, maka
elektron-elektron penyusun ikatan dapat bergerak secara cepat
sepanjang rantai molekul. Konduktivitas dari material plastik yang
mengandung banyak rantai polimer, akan terbatas karena
elektron-elektron harus “melompat” dari satu molekul ke molekul
berikutnya. Jadi, rantai tersebut harus membentuk rantai yang
teratur.
Sebagaimana
diuraikan sebelumnya, ada dua jenis doping, oksidasi dan reduksi.
Dalam kasus poliasetilen, reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut
:
Oksidasi
menggunakan halogen (p-doping): [CH]n + x I2 –>
[CH]nx+ + x I3-
Reduksi
menggunakan logam alkali (n-doping): [CH]n
+ x Na –> [CH]nx-
+ x Na+
Polimer
yang telah didoping disebut dengan garam. Akan tetapi, bukan ion
iodida atau ion natrium yang bergerak untuk menghasilkan arus
listrik, namun elektron yang berasal dari ikatan rangkap
terkonjugasi-lah yang melakukannya. Lebih lanjut lagi, jika medan
listrik yang cukup kuat diberikan, maka ion iodida dan ion natrium
dapat bergerak baik menuju ataupun menjauhi polimer. Ini artinya
bahwa arah dari reaksi doping dapat dikontrol dan polimer konduktif
dapat dengan mudah dihidupkan atau dimatikan.
Polaron
– rantai karbon terdoping
Dalam
reaksi pertama (yaitu oksidasi), molekul iodin menarik elektron dari
rantai poliasetilen dan berubah menjadi ion I3-.
Molekul poliasetilen (yang sekarang menjadi bermuatan positif),
kemudian diistilahkan sebagai kation radikal atau polaron.
Elektron tak berpasangan yang berasal dari ikatan rangkap (yang salah
satu elektronnya diambil), dapat bergerak dengan bebas.
Konsekwensinya, ikatan rangkap pun dapat “bergerak” (secara
estafet) sepanjang molekul.
Muatan
positif di lain fihak, dikuatkan oleh gaya tarik elektrostatik
terhadap ion iodida, yang tidak begitu mudah bergerak. Jika rantai
poliasetilen teroksidasi sangat kuat, polaron mengalami
kondensasi menjadi soliton. Soliton inilah yang
bertanggung jawab, dengan cara yang sangat kompleks, terhadap
transport muatan sepanjang rantai polimer, sebagaimana halnya dari
rantai ke rantai dalam skala makroskopis.
Penemuan
hideki shirakawa dan kawan-kawan menjadi awal dari era baru dalam hal
teknologi komputer. Penemuannya telah banyak tersedia di sekeliling
kita, di antaranya adalah baterai telepon genggam dan touch-screen
(layar sentuh).
Gb. 4. Layar Touch Screen banyak digunakan dalam peralatan tablet (atas). Cara kerja layar touch screen (bawah)
Sumber : http://nitum.wordpress.com/2012/09/29/biography-of-hideki-shirakawa/





0 komentar:
Posting Komentar